Karena sistem sosial dan budaya masyarakat Indonesia sangat HETEROGEN secara VERTIKAL maupun HORIZONTAL
Indonesia merupakan negara yang memiliki susunan masyarakat dengan ciri PLURALITAS yang tinggi
AKIBAT HETEROGENITAS MASYARAKAT INDONESIA masyarakat menjadi rawan konflik
TERKAIT DENGAN INDONESIA SEBAGAI SUATU STATE YANG TERINTEGRASI
Memunculkan 2 pertanyaan inti:
faktor-faktor latent apakah yang sesungguhnya telah menyebabkan terjadinya konflik?.
Faktor-faktor apakah yang mengintegrasikan masyarakat Indonesia yang memiliki kondisi potensial konflik?.
Apa Sistem
Konsep yang menjelaskan:
Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagian-bagian,komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.
Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya.
PLURALITAS MASYARAKAT INDONESIA DISEBABKAN OLEH:
KEADAAN GEOGRAFIS
LETAK INDONESIA ANTARA SAMODERA INDONESIA DAN SAMODERA PASIFIK (pusat lalu lintas perdagangan dan persebaran agama)
IKLIM YANG BERBEDA (berakibat plural secara regional)
CURAH HUJAN DAN KESUBURAN TANAH YANG BERBEDA (PLURALITAS LINGKUNGAN EKOLOGIS)
WETRICE CULTIVATION (pertanian sawah di Jawa dan Bali)
SHIFTING CULTIVATION (pertanian ladang di luar Jawa)
UNTUK MEMAHAMI SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA DIPERLUKAN PENGUASAAN TEORI, Karena fungsi teori adalah memberi MAKNA terhadap REALITAS SOSIAL
Kebangsaan?
Apa yang mengintegrasikan anak bangsa (dengan berbagai kemajemukan/heterogenits/pluralis) hingga menjadi sebuah nation/ negara ?
DUA PENDEKATAN TEORITIS YANG HARUS DIKUASAI: Struktural Fungsional dan Konflik Dialektika
Struktural Fungsional
Asumsi Dasar:
MASYARAKAT TERINTEGRASI ATAS DASAR KATA SEPAKAT PARA ANGGOTANYA TERHADAP NILAI DASAR KEMASYARAKATAN YANG MENJADI PANUTANNYA
KESEPAKATAN MASYARAKAT tersebut Menjadi GENERAL AGREEMENTS yang memiliki kemampuan mengatasi PERBEDAAN-PERBEDAAN PENDAPAT dan KEPENTINGAN dari para anggotanya
MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM YANG SECARA FUNGSIONAL TERINTEGRASI KEDALAM SUATU BENTUK EQUILIBRIUM
Istilah lain pendekatan STRUKTURAL FUNGSIONAL
INTEGRATION APPROACH
ORDER APPROACH
EQUILIBRIUM APPROACH
STRUCTURAL FUNGTIONAL APPROACH
Tokoh
PLATO
AUGUSTE COMTE
HERBERT SPENCER
EMILE DURKHEIM
BRANISLAW MALINOWSKI
REDCLIFFE BROWN
TALCOT PARSON
ANGGAPAN DASAR THEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL (lanjutan): PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam SISTEM SOSIAL bersifat GRADUAL melalui PENYESUAIAN. Bukan bersifat REVOLUSIONER
PERUBAHAN terjadi melalui 3 macam kemungkinan:
PENYESUAIAN SIATEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN DARI LUAR (extra systemic change)
PERTUMBUHAN melalui PROSES DIFFERENSIASI STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL
PENEMUAN BARU oleh ANGGOTA MASYARAKAT
Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah KONSENSUS
Penilaian/kritik terhadap theori STRUKTURAL FUNGSIONAL: Terlalu menekankan anggapan dasarnya pada PERANAN UNSUR-UNSUR NORMATIF dari TINGKAH LAKU SOSIAL (pengaturan secara NORMATIF terhadap HASRAT seseorang untuk menjamin STABILITAS SOSIAL) (David Lockwood)
Menurut David Lockwood, Terdapat SUB STRATUM yang berupa DISPOSISI-DISPOSISI yang mengakibatkan timbulnya PERBEDAAN LIFE CHANCES (kesempatan hidup) dan KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG TIDAK NORMATIF
DALAM SETIAP SITUASI SOSIAL terdapat 2 hal yaitu:
TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF
SUB STRATUM yang melahirkan KONFLIK
KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL
Setiap STRUKTUR SOSIAL mengandung KONFLIK dan KONTRADIKSI yang bersifat internal dan menjadi PENYEBAB PERUBAHAN
REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak
Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS CIRCLE
Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara GRADUAL melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara REVOLUSIONER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar